Tampilkan postingan dengan label shal kashmir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shal kashmir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2009

Sejarah Shal Kashmir Part3: Sejarah Era Tradisional

Secara garis besar, babakan sejarah shal Kashmir dapat dibagi menjadi 5, yaitu:
1. Era Shal Tradisional
2. Era Industrialisasi Modern (masalisasi, pembukaan hubungan dengan Eropa)
3. Era Migrasi
4. Era Puncak Kejayaan dan Penenunan Shal di Eropa
5. Era Kejatuhan Shal Kashmir

Pembagian semacam itu sebenarnya cukup cair, karena masing-masing babakan terkait langsung dan kadang bertumpukan dengan era lainnya.


· Era Shal Tradisional

Penenunan shal pra-klasik diperkirakan telah dimulai sejak abad ke-11. Berdasarkan legenda setempat yang dikenal lebih dari seribu tahun silam, penemu shal (baca: kembali) adalah Zain-ul-’Abidin alias Kashmir Akbar (1420-1470 M.). Zain-ul-’Abidin memperkenalkan pola tenunan Turkistan dalam rangka program peningkatan usaha padat karya.

Kendati akhirnya legenda ini hanya sekadar legenda, ini rupanya cukup signifikan, mengingat fakta bahwa dalam perjalanan industri tenun tradisional India pada awal abad ke-19, satu hal yang cukup membingungkan adalah teknik dasar itu sendiri. Teknik ini setara dengan teknik di Persia dan Asia Tengah tetapi bukti-bukti kesetaraannya tak ditemukan di sub-kontinen India itu sendiri.

Sejarawan tekstil Barat menyebutnya the twill-tapestry technique karena kemiripannya dengan beberapa teknik tradisional tenun tapestri di Eropa. Inti teknik ini adalah motif tak dibuat dari susunan benang pakan yang melintang sepanjang lebar kain, melainkan dibuat dari susunan benang warna-warni yang ditenun hanya di tempat warna tersebut diperlukan, seperti dalam pembuatan tapestri atau sulaman.

Sejak sebelum masa kekuasaan Dinasti Mughal yang menginvasi Kashmir pada 1586, shal sudah mendapatkan tempat terhormat. Dalam Ain-i-Akbari, The Institutes of Akbar, buku yang sering dijadikan rujukan sejarah Kashmir, dikatakan bahwa sang orang-orang Kashmir pada masa itu menggunakan shal sebagai hadiah dan untuk dikirim ke negeri-negeri yang jauh. Bahkan Kashmir Akbar menyatakan dirinya sebagai pengagum berat shal.

Sang Kashmir Akbar tak hanya memakai shal sebagai pelapis jubah yang dikenakan dengan cara biasa, yakni diselendangkan (patut diingat bahwa pemakaian shal sebagai bawahan hanya ditemukan di Persia—red.). Ia juga memperkenalkan gaya fashion baru dengan menggunakannya berpasangan, yang dikenal dengan istilah dashala. Dengan cara ini, kedua bagian belakang shal menempel satu sama lain pada tubuh, sehingga bagian buruknya tak terlihat.

Dari sumber yang sama kita mengetahui bahwa Shal yang sangat didambakan pada masa awal dinasti Mughal adalah shal yang dibubuhi benang emas dan perak. Orang Barat menyebutnya sebagai Gold Shawl. Manrique (1630) menggambarkan bahwa shal terbaik memiliki “border yang dihiasi pinggiran dari benang emas, perak, dan sutra. Katanya, "Mereka (Pangeran dan bangsawan) menggunakannya seperti jubah, baik menyelendangkannya maupun dengan cara lain menyandangnya di tangan. Jenis ini ditenun dalam warna putih, dicelup dalam warna yang diinginkan, lantas dihias dengan bunga-bunga dan dekorasi lain dalam beraneka warna yang tampak meriah.”

Gold Shawl ini pun kadang disebutkan dalam dokumen awal English East India Company sebagai barang yang populer dalam perkara sogok-menyogok. Terkadang shal-shal tersebut ditawarkan oleh aparat pribumi kepada bangsa Eropa, demi memohon dan menegakkan kekuasaan orang pribumi kepada orang asing di tanahnya sendiri.

Sejarah Shal Kashmir Part2: Material



Material tenunan shal Kashmir tradisonal adalah bulu kambing gunung Asia Tengah, mamalia berselimut wol yang disebut Capra hircus. Bulu binatang tersebut tumbuh sebagai bentuk perlindungan alamiah terhadap musim dingin dan rontok kala tiba musim panas. Jenis inilah yang populer di Barat karena harga dan mutunya, meskipun shal yang terkenal dan diproduksi di Eropa sendiri menggunakan material lain seperti sutra, katun, dan benang emas.


Padang rumput di selatan Cizre,Turki.
Kawanan domba ini merupakan milik suku Goyan Kurds—
pembuat tenunan tapestri Asia Tengah. (Foto: Mehmet Kiliç)

Walaupun kambing merupakan penghasil utama wol shal, bulu binatang serupa diambil juga dari domba gunung liar Himalaya seperti Shapo (Ovis orientals vignei blythi), Argali (Ovis ammon linnaeus), dan Bharal (Pseudois nayaur hogson). Bahkan anjing gembala Tibet diakui memiliki bulu yang serupa.

Bulu-bulu di pasar Kashmir ini dikategorisasikan dalam dua kelas yang jauh perbandingan mutunya. Yang terbaik dan termasyur diambil hanya dari binatang liar Capra hircus, dikumpulkan dari cadas dan belukar tempat binatang tersebut berlindung dari cuaca yang mulai menghangat. Bulu terbaik diambil dari daerah di bawah pusar, sekitar perut. Bulu jenis ini dikenal karena kehangatan dan kehalusan laiknya sutra dikenal, disebut dengan istilah asli tus. Kualitas super dari kelas ini menghadirkan bulu yang lebih panjang dan lebih kuat, yang diambil dari tempat binatang tersebut menghabiskan musim dingin. Material yang disebut terakhir inilah yang melegenda dalam sejarah shal sebagai “shal cincin” yang dipopulerkan pada masa Dinasti Mughal India karena dapat dilingkarkan mengelilingi ibu jari (pada umumnya, bulu domba tidak sepanjang itu.........)

Akan tetapi, pada kenyataannya asli tus ini tak begitu marak di pasaran. Jumlah shal yang ditenun dengan asli tus murni kemungkinan hanya sepersekian dari keseluruhan shal. Hal ini dipengaruhi oleh kelangkaan komparatifnya, tingginya biaya impor, serta waktu dan usaha ekstra yang diperlukan dalam proses pembersihan dan pemintalannya. Pada 1891, impor asli tus tahunan mencapai kurang dari seperenam dari total persentase terbesar impor wol shal lain. Di seantero Kashmir sendiri hanya ada dua alat tenun yang mengkhususkan diri menghasilkan tenunan dari asli tus murni.

Kelas kedua wol shal dihasilkan oleh kambing piaraan dari spesies yang sama. Jenis ini menempati bagian terbesar bahan baku tenunan Kashmir.

Sebelum tahun 1800, kebanyakan wol jenis ini datang dari Ladakh dan Tibet Utara. Namun, tak sampai seabad kemudian, berjangkit epidemik yang menyerang kambing di wilayah tersebut, dan selanjutnya suplay wol terutama dipasok secara kolektif dari suku-suku nomad Kirghiz dan diimpor melalui Yarkand dan Khotan.

Pada paruh kedua abad ke-19, sumber utama wol adalah Sinkiang dan Turfan. Karena suplay barang pada masa itu lumayan jarang memenuhi permintaan pasar, harga bulu kambing meningkat tajam. Inilah penyebab pemalsuan dan penurunan standar shal tradisional, yang tak pelak lagi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan pasar shal pada kurun 1860-an.

Dalam urusan pewarnaan benang, pada masa Mughal, lebih dari 3.000 warna digunakan secara reguler. Akan tetapi, pada awal abad ke-19, angka tersebut menurun hingga tinggal 64. Kebanyakan merupakan bahan pewarna alam: biru dan ungu dari indigofera, oranye dan kuning dari karthamus dan saffron, merah dari kayu logwood. Tetapi sumber lain banyak pula digunakan, termasuk cochineal untuk warna merah tua (crimson) dan serbuk besi untuk hitam. Yang cukup aneh adalah warna hijau. Tersiar kabar bahwa warna ini diekstrak dari baize atau gaun lebar wanita. Baize ini sengaja diimpor dari Inggris dan digodok hanya untuk mendapatkan warna unik itu.
(Wallahu alam bissawab......)