Rabu, 25 Februari 2009

Sejarah Shal Kashmir Part2: Material



Material tenunan shal Kashmir tradisonal adalah bulu kambing gunung Asia Tengah, mamalia berselimut wol yang disebut Capra hircus. Bulu binatang tersebut tumbuh sebagai bentuk perlindungan alamiah terhadap musim dingin dan rontok kala tiba musim panas. Jenis inilah yang populer di Barat karena harga dan mutunya, meskipun shal yang terkenal dan diproduksi di Eropa sendiri menggunakan material lain seperti sutra, katun, dan benang emas.


Padang rumput di selatan Cizre,Turki.
Kawanan domba ini merupakan milik suku Goyan Kurds—
pembuat tenunan tapestri Asia Tengah. (Foto: Mehmet Kiliç)

Walaupun kambing merupakan penghasil utama wol shal, bulu binatang serupa diambil juga dari domba gunung liar Himalaya seperti Shapo (Ovis orientals vignei blythi), Argali (Ovis ammon linnaeus), dan Bharal (Pseudois nayaur hogson). Bahkan anjing gembala Tibet diakui memiliki bulu yang serupa.

Bulu-bulu di pasar Kashmir ini dikategorisasikan dalam dua kelas yang jauh perbandingan mutunya. Yang terbaik dan termasyur diambil hanya dari binatang liar Capra hircus, dikumpulkan dari cadas dan belukar tempat binatang tersebut berlindung dari cuaca yang mulai menghangat. Bulu terbaik diambil dari daerah di bawah pusar, sekitar perut. Bulu jenis ini dikenal karena kehangatan dan kehalusan laiknya sutra dikenal, disebut dengan istilah asli tus. Kualitas super dari kelas ini menghadirkan bulu yang lebih panjang dan lebih kuat, yang diambil dari tempat binatang tersebut menghabiskan musim dingin. Material yang disebut terakhir inilah yang melegenda dalam sejarah shal sebagai “shal cincin” yang dipopulerkan pada masa Dinasti Mughal India karena dapat dilingkarkan mengelilingi ibu jari (pada umumnya, bulu domba tidak sepanjang itu.........)

Akan tetapi, pada kenyataannya asli tus ini tak begitu marak di pasaran. Jumlah shal yang ditenun dengan asli tus murni kemungkinan hanya sepersekian dari keseluruhan shal. Hal ini dipengaruhi oleh kelangkaan komparatifnya, tingginya biaya impor, serta waktu dan usaha ekstra yang diperlukan dalam proses pembersihan dan pemintalannya. Pada 1891, impor asli tus tahunan mencapai kurang dari seperenam dari total persentase terbesar impor wol shal lain. Di seantero Kashmir sendiri hanya ada dua alat tenun yang mengkhususkan diri menghasilkan tenunan dari asli tus murni.

Kelas kedua wol shal dihasilkan oleh kambing piaraan dari spesies yang sama. Jenis ini menempati bagian terbesar bahan baku tenunan Kashmir.

Sebelum tahun 1800, kebanyakan wol jenis ini datang dari Ladakh dan Tibet Utara. Namun, tak sampai seabad kemudian, berjangkit epidemik yang menyerang kambing di wilayah tersebut, dan selanjutnya suplay wol terutama dipasok secara kolektif dari suku-suku nomad Kirghiz dan diimpor melalui Yarkand dan Khotan.

Pada paruh kedua abad ke-19, sumber utama wol adalah Sinkiang dan Turfan. Karena suplay barang pada masa itu lumayan jarang memenuhi permintaan pasar, harga bulu kambing meningkat tajam. Inilah penyebab pemalsuan dan penurunan standar shal tradisional, yang tak pelak lagi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan pasar shal pada kurun 1860-an.

Dalam urusan pewarnaan benang, pada masa Mughal, lebih dari 3.000 warna digunakan secara reguler. Akan tetapi, pada awal abad ke-19, angka tersebut menurun hingga tinggal 64. Kebanyakan merupakan bahan pewarna alam: biru dan ungu dari indigofera, oranye dan kuning dari karthamus dan saffron, merah dari kayu logwood. Tetapi sumber lain banyak pula digunakan, termasuk cochineal untuk warna merah tua (crimson) dan serbuk besi untuk hitam. Yang cukup aneh adalah warna hijau. Tersiar kabar bahwa warna ini diekstrak dari baize atau gaun lebar wanita. Baize ini sengaja diimpor dari Inggris dan digodok hanya untuk mendapatkan warna unik itu.
(Wallahu alam bissawab......)

0 komentar:

Posting Komentar