Apa itu shal?
Kata “shal” yang berasal dari bahasa Persia merupakan dasar bagi terbentuknya kata Inggris“shawl” yang sering diterjemahkan menjadi selendang. Dalam bahasa Indonesia, dikenal kata “syal”, suatu jenis pakaian yang berupa kain tenunan dari bahan wol sebagai penghalau dingin yang dililitkan di leher atau bahu. Pada pengertian dasarnya, kata tersebut lebih merujuk pada suatu kelas bahan tenunan ketimbang secara spesifik menyebutkan bagian atau jenis pakaian.
Selain shal, ada dua pengertian lain yang merujuk pada jenis kain tenun yang sama, yaitu pashmina dan cashmere. Pashmina berasal dari kata Persia “pashm”, yang pada dasarnya berarti segala jenis wol, sedangkan cashmere mengacu pada ejaan lama untuk menyebut daerah asal shal yang terkenal di Eropa, yaitu Kashmir. Istilah tersebut sebenarnya menyesatkan, karena walaupun benar shal terbuat dari wol dan Kashmir merupakan daerah asalnya, wol untuk shal tersebut diimpor dari Tibet atau Asia Tengah dan tak diproduksi lokal. Lagipula pada perkembangannya, shal tak lagi hanya ditenun di Kashmir, meski tetap mengusung nama shal Kashmir.
Secara tradisional di tempat asalnya, shal dapat digunakan sebagai turban (lilitan besar kain panjang pada kepala orang Turki atau Persia), kerudung, mantel, scarf, bahkan selimut—tergantung pula pada tekstur bahan juga kondisi masyarakat tempat pembuatan shal tersebut. Keragaman fungsi shal tersebut terkait dengan bahan dasarnya. Shal terbuat dari bulu domba atau bulu binatang lain, bahan hangat yang membuatnya begitu fleksibel dikenakan dalam bentuk apapun.
Dalam pengertian Eropa yang juga merupakan pengertian umum dunia, shal adalah sebuah bahan mantel tanpa jahitan yang dikenakan menyampir pada bahu, sebagian maupun keseluruhan, yang terbuat dari tenunan bulu binatang. Fakta mengenai hal itu bisa ditemukan dalam lukisan potret sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19, masa-masa puncak kepopuleran shal.
Seorang pengelana Italia, Pietro della Valle, pada 1623 meneliti bahwa di negara asalnya, Persia, shal dipakai sebagai kain di bawah pinggang. Di India sendiri, negara tempat berkembangnya shal dekoratif hingga dikenal di Eropa, shal ini lebih sering digunakan dengan disampirkan pada bahu. Dipakai dengan cara demikian di India, awalnya shal merupakan pakaian pria, dan secara tradisional melambangkan derajat kebangsawanan tergantung kualitas shal itu sendiri. Walaupun bentuk pakaian ini begitu sederhana, tak diragukan lagi bahwa shal memiliki sejarah panjang di dunia Timur. Di era modern kala ini, shal dengan kualitas terbaik identik dengan nama Kashmir.
Rabu, 25 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar